Kamis, 14 Juni 2018

Makna Puasa Sebagai Amanah


Musdah Mulia


Puasa adalah amanah, hendaknya setiap manusia menunaikan amanahnya masing-masing dengan sebaik-baiknya (HR. Ibnu Mas’ud). Tujuan utama puasa Ramadhan adalah membentuk manusia beriman danbertakwa hanya kepada Allah swt. (QS. al-Baqarah,2:183).

Salah satu indikasi nyata dari keimanan dan ketakwaan seseorang adalah mampu melaksanakan amanah. Arti amanah mencakup segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, baik menyangkut hak diri sendiri, hak orang lain dan alam semesta, maupun hak Allah swt. Dengan demikian, puasa dan amanah bagaikan dua sisi mata uang. 

Puasa dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa, sedangkan amanah merupakan indikasi paling nyata dari keimanan dan ketakwaan. Bahkan, hadis Nabi saw. menegaskan: la  imaana liman la amaanata lah, tidaklah beriman seseorang yang tidak melaksanakan amanah (HR. Ahmad III, 135 dan 210). 

Islam adalah agama yang paling vokal bicara tentang pentingnya amanah. Mengapa? Sebab, pelaksanaan amanah amat menentukan kualitas iman dan takwa seseorang. Itulah sebabnya, Nabi saw. berulang kali bersabda: “Tunaikanlah amanah, dan jangan pernah kamu mengkhianati amanah yang dititipkan Tuhan kepadamu.” (HR Abu Dawud dan Tirmizi). Karena itu, jangan pernah meremehkan amanah. Sekecil apa pun amanah itu. 
Amanah merupakan isu penting dalam Al-Qur’an. Kitab suci ini menyebut kata amanah setidaknya dalam lima makna. 

Pertama, kata amanah disinggung dalam kaitan dengan isu kesaksian (QS, 2:283). Amanah dalam konteks ayat tersebut bermakna keharusan memberikan kesaksian yang benar dan larangan menyembunyikan kebenaran, mekipun resikonya sangat berat. 

Kedua, disebutkan dalam isu keadilan (QS, 4:58). Amanah berarti kewajiban menetapkan hukum secara adil, tidak ada diskriminasi, juga tanpa eksploitasi. 

Ketiga, digunakan dalam kaitan larangan berkhianat (QS, 8:27). Amanah berarti larangan berlaku khianat. Setiap Muslim dan Muslimat diharamkan mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta menghianati amanah yang dipercayakan kepadanya. 

Keempat, disebutkan dalam konteks sifat manusia terpuji  (QS, 70:32). Amanah adalah satu di antara sifat terpuji yang harus dimiliki manusia yang beriman dan bertakwa, yakni sifat manusia yang tidak berkeluh kesah bila mengalami kesulitan hidup, sebaliknya tidak arogan bila mendapatkan kesenangan. Jadi manusia yang amanah adalah manusia yang memiliki integritas kepribadian yang stabil dan mantap, tidak mudah berubah-ubah meski godaan datang silih berganti. 

Kelima, disebutkan dalam kaitan penciptaan manusia (QS, 33:72). Amanah berarti kemampuan memikul tanggung jawab. Ketika Allah swt. menawarkan amanah untuk mengelola kehidupan dunia kepada langit, bumi, gunung-gunung tak satupun sanggup mengembannya, kecuali manusia. Ternyata, hanya manusia berani menyatakan kesanggupannya. 

Menarik dicermati bahwa dalam kaitan dengan pelaksanaan amanah, sejak dini Allah swt. menvonis manusia dengan tudingan negatif sebagai makhluk yang amat zalim dan amat bodoh (QS, 33:72). Mengapa? Karena dalam realitas sosiologis di masyarakat, sebagian besar manusia telah secara vulgar dan terang-terangan, tanpa rasa malu sedikitpun, mempertontonkan perilaku yang amat zalim, amat serakah dan amat bodoh. Buktinya, sangat kasat mata. 

Sebagai contoh, sudah umum diketahui bahwa tugas sebagai pejabat publik di lembaga eksekutif, yudikatif dan legislatif sangat tidak gampang, penuh godaan, penuh fitnah, dan penuh intrik. Walaupun begitu, tetap saja tidak menyurutkan keinginan banyak manusia mengejar jabatan tersebut. Bahkan, orang-orang yang tidak memiliki kapasitas dan kompetensi diri untuk jabatan itu pun sangat bersemangat meraihnya. Kalau perlu dengan jalan pintas, menggunakan cara-cara licik,money politic. 

Puasa Ramadhan hakikatnya merupakan media pelatihan diri yang efektif, terutama melatih diri agar terhindar dari semua perilaku negatif, seperti khianat, meremehkan amanah, tidak jujur, suka berdusta, dan gemar berjanji palsu. Sebaliknya, puasa melatih diri terbiasa berperilaku positif, seperti berbuat adil, menolong sesama, dan menghormati hak orang lain, terutama kelompok rentan dan minoritas, memenuhi janji, berkata jujur, rendah hati dan rela berkorban demi kepentingan dan kemaslahatan orang banyak. 

Kesimpulannya, melalui ibadah puasa diharapkan dapat meningkatkan kualitas ketakwaan individu, yang pada gilirannya mampu mengemban amanah secara lebih profesional. Itulah ciri sejati orang-orang bertakwa. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Senin, 11 Juni 2018

PUASA SEBAGAI MEKANISME REFLEKSI KEMANUSIAAN


Saya teringat pada satu kisah dalam cerita sufi yang amat mengesankan, cerita tentang orang alim dan pelacur. Dikisahkan, seorang alim hidup bertetangga dengan seorang perempuan pelacur. Setiap kali si orang alim  memandang ke rumah sang pelacur, dia lalu membayangkan pelacur itu sedang berbuat mesum. Dia selalu mengira pelacur itu pasti sedang bermesuman. Stigma dan prasangka buruk ini merasuki dirinya sedemikian rupa dan membuatnya sangat benci terhadap pelacur itu. Kebenciannya sudah sampai ke ubun-ubun dan tak tahan lagi dia lalu mengusir pelacur itu.

Sebaliknya, berbeda dengan sang alim, si pelacur selalu memiliki prasangka baik terhadap tetangganya sang alim. Bahkan, pelacur itu mengidolakan sang alim dan menjadi inspirasinya setiap berdoa kepada Tuhan. Demikianlah yang terjadi, setiap kali si pelacur memandang ke rumah orang alim, batinnya meratap sambil berdoa: ”betapa mulia-Nya Engkau Tuhan,  Engkau memiliki hamba mulia seperti tetanggaku yang alim ini, dia dihormati dan disegani dalam masyarakat. Orang-orang dari berbagai pelosok berkunjung kepadanya menimba ilmu dan memohon doa restu. Ya Tuhan! Aku sangat ingin seperti dia, hidup terhormat, jauh dari dosa dan maksiat. Tunjukkan aku jalan-Mu, dan jangan Engkau biarkan aku tersesat seperti ini! 

Pendek cerita, tibalah hari pembalasan. Orang alim itu diseret malaikat ke pintu neraka. Dia protes, kalian pasti salah orang, katanya. Aku tidak mungkin masuk neraka, coba periksa kembali buku amalku. Malaikat pun membuka buku amal dan berkata: betul sekali anda tercatat sebagai orang saleh dan sangat alim. Buku ini penuh rekaman amal-kebajikan. Tapi, satu hal  membuat Tuhan murka dan tidak ridha kepadamu. Engkau selalu melihat orang lain dengan kacamata hitam dan penuh prasangka buruk. Contoh konkretnya, engkau selalu melihat pelacur, tetanggamu itu dengan penuh kebencian, tiada belas kasih sedikit pun. Lupakah engkau, bahwa surga dan neraka ciptaan Tuhan untuk hambanya. Hanya Dia yang berhak memilih siapa di antara hamba-Nya akan menghuni surga atau neraka. 

Sementara, si pelacur diantar malaikat menuju gerbang Surga, dia pun terkejut tak percaya. Dia pun bertanya pada malaikat:  ”Kalian tidak salah orang? Rasanya aku tidak pantas masuk surga, buku amalku penuh torehan dosa.Memang betul kata malaikat, walaupun demikian, kata malaikat lagi, ada satu hal, tampaknya sepele dan sering diabaikan manusia, justru itu yang membuat Tuhan ridha. Engkau selalu berprasangka baik dan menaruh harapan positif kepada Tuhan, dan selalu positive thinking atau husn al-dzan terhadap manusia. Ketahuilah, surga dan neraka, sepenuhnya milik Tuhan. Hanya Dia yang Maha Tahu siapa yang bakal masuk ke dalamnya.

Kisah sufi ini menginspirasikan kita sebagai hamba yang hina tentang perlunya memiliki harapan baik kepada Tuhan. Begitu sering Qur’an dan hadis Nabi berpesan: ”Jangan pernah putus asa dari rahmat Tuhan.” Ana inda daznni abdi bi (Aku mengikuti perkiraan hambaku). Maksudnya, kalau manusia punya pengharapan baik terhadap-Ku, Aku pun demikian terhadapnya, demikian sebaliknya. 

Al-Qur’an juga mengingatkan perlunya selalu positive thinking, berpikir positif dan berprasangka baik kepada sesama manusia. Tidak mudah memang, sebab selalu saja datang godaan membelokkan kita berperilaku seperti perilaku Tuhan, yaitu menghakimi manusia. 

Sejatinya, hanya Tuhan punya hak prerogatif untuk menghakimi, bukan manusia. Sebagai manusia, kita cukup berfastabiqul khairat, berkompetisi secara sehat melakukan sebanyak mungkin amal kebajikan. Kita tidak tahu pasti, siapa di antara kita diterima amalnya, atau paling banyak amalnya, hanya Dia yang Maha tahu. 

Pesan moral paling penting dari kisah sufi tersebut adalah jangan beribadah karena pamrih, termasuk pamrih untuk mendapatkan surga. Rabi’atul Adawiyah, seorang sufi perempuan ternama, setiap selesai beribadah yang dilakukan sepanjang malam, diakhir sujudnya selalu berdoa:

 Ya Rabb, andai akau menyembah-Mu hanya karena takut neraka, maka benamkanlah tubuhku ke dalamnya. Andai aku beribadah lantaran menginginkan surga-Mu, jauhkanlah aku darinya. Sebab, aku memuja-Mu demi mengharapkan ridha-Mu semata Ya Rabb.

Dalam konteks bulan Ramadhan kali ini, puasa hendaknya sungguh-sungguh dilakukan tanpa pamrih apa pun, kecuali mengharap ridha Ilahi semata. Puasa demikian itulah yang mampu mengantarkan kita ke tujuan akhir puasa, yakni menjadi manusia bertakwa (al-Baqarah, 2:183): 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Puasa sebagaimana ibadah lainnya memiliki dua dimensi, hablun minallah (hubungan vertikal dengan Tuhan.) dan hablun minannas (hubungan horisontal antar-manusia). Sejatinya, mereka yang berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan (imanan wa ihtisaban) pasti diampuni segala dosanya dan ditingkatkan kualitas kemanusiaannya menjadi manusia bertakwa.  

Seperti apa persisnya manusia bertakwa itu? Sejumlah ayat memberikan indikasi kuat bahwa yang dimaksud adalah manusia yang memiliki integritas keimanan dan moralitas sempurna (akhlaq karimah). Manusia yang sudah sampai pada penghayatan esensi agama, yakni memanusiakan manusia. 

Sekali lagi, puasa pada hakikatnya adalah sebuah mekanisme refleksi kemanusiaan. Puasa punya efek memupuk budaya cinta dan damai, bukan kemarahan, kebencian, apalagi kekerasan. Puasa mengajarkan budaya kesetaraan, tidak satu pun manusia boleh diperlakukan semena-mena, baik dalam bentuk diskriminasi, eksploitasi maupun kekerasan, untuk alasan apa pun. Seharusnya, dengan berpuasa kita menjadi lebih berempati kepada sesama, santun, rendah hati, serta lebih bijak sehingga tercipta damai dan harmoni dalam kehidupan bersama. Wallahu a’lam bi as-shawab.


Puasa Ramadhan Sebagai Mekanisme Pensucian Diri

Musdah Mulia


Puasa Ramadhan adalah sebuah mekanisme pensucian diriagar mendapatkan posisi sebagai manusia takwa. Qur’an menegaskan, kewajiban puasa dimaksudkan agar orang beriman menjadi lebih takwa. (al-Baqarah, 2:183). Ketakwaan seseorang tercermin dalam perilaku sehari-hari atau akhlaknya. 

Seluruh ibadah dalam Islam berujung pada upaya perbaikan dan peningkatan moralitas manusia (akhlak karimah). “Saya diutus ke dunia semata-mata untuk menyempurnakan akhlak karimah”, demikian sabda Rasul. Seyogyanya, semakin seseorang bertekun dalam menjalankan ibadah,seperti puasa, maka ia semakin bermoral, semakin berempati kepada sesama dan semakin peduli pada lingkungan. Itulah ciri-ciri utama orang takwa.

Ibadah sepenuhnya untuk kemaslahatan dan kebaikan manusia. Puasa harus dapat membuat manusia jadi lebih manusiawi, menghormati sesama dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Tapi, dalam realitas sehari-hari tidak demikian. Dalam konteks inilah Rasul menjelaskan, sebagian besar manusia melakukan puasa, namunkebanyakan hanya merasakan lapar dan dahaga. 

Puasa memiliki tiga tingkatan. Pertama, disebut puasa awam, sekedar menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual di siang hari. Puasa model ini sebetulnya hanya memindahkan jam makan dan aktivitas seksual. Kedua, disebut puasa khusus, di samping mampu menahan diri dari tiga hal tadi juga menahan seluruh anggota tubuh, seperti mulut, telinga, mata, kaki dan tangan dari perilaku yang berpotensi mendatangkan dosa. Ketiga, disebut sebagai puasa paling khusus karena melibatkan bukan hanya aspek jasmaniah, melainkan juga aspek batiniah,yakni menahan pikiran dan perasaan dari semua hal yang berpotensi membawa kepada dosa dan maksiat. Puasa model ini dapat meneguhkan hati dari berbagai godaan hasrat badani yang konsumtif dan hedonistik. 

Puasa harus menyadarkan umat Islam bahwa musuh agama yang utama adalah ketidakadilan, kezaliman, kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan. Para pemuka agama dan penguasa (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) mengemban amanah untuk membantu masyarakat terbebas dari musuh-musuh agama tersebut. 

Potret masyarakat dalam bulan Ramadhan

Mari amati realitas sosiologis dalam masyarakat. Seminggu jelang puasa, harga- sembako dan bahan pokok lain melambung dan terus melambung sampai akhir Ramadhan. Bahkan, bahan bakar (BBM) pun mengalami kelangkaan. Ironis sekali, puasa seharusnya membuat komsumsi masyarakat turun, dan akibat lanjutnya permintaan barang menurun sehingga harga-harga pun tidak melonjak. Kalau begitu, realitas yang ada dapat dimaknai sebagai ketidakbecusan pemerintah mengelola perdagangan; atau ketidakmampuan pemerintah menjaga kestabilan ekonomi; atau ketidakmampuan masyarakat menahan nafsu komsumtif dan hedonistik.

Selama Ramadhan media tak habisnya memberitakan fenomena kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, kezaliman, dan perilaku korup para elit penguasa dan pengusaha. Potret warga antri sembako, antri air bersih, dan antri BBM menghiasi lembaran surat kabar. 

Sebaliknya, seiring dengan itu, aktivitas dakwah meningkat drastis, mulai dari acara dakwah di TV, masjid dan musholla, acara buka bersama dan shalat tarawih di berbagai hotel berbintang dan rumah-rumah pejabat. Ringkasnya, tiada detik tanpa dakwah. Apakah dakwah bertaburan itu secara signifikan melahirkan masyarakat bermoral dan peduli terhadap sesama? Jawabnya sudah diketahui.

Ketika waktu berbuka puasa tiba, tidak semua orang, terutama mereka yang hidup di ibu kota dapat berbuka dengan tenang bersama keluarga di rumah. Sebagian besar terpaksa berbuka di pinggir jalan atau sambil berkendaraan karena tingkat kemacetan lalu lintas semakin parah dan sudah tidak manusiawi. Kebijakan pemerintah mengelola kemacetan tampaknya hanya bersipat tambal-sulam, tidak menyentuh akar masalah sama sekali. Pemerintah kotalumpuh menghadapi pertambahan jumlah kendaraan, terutama motor, sementara angkutan publik terabaikan.

Pada waktu malam, ketika kebanyakan warga perlu istirahat, malah terusik oleh suara loud speaker mesjid yang memekakkan telinga, padahal sudah ada aturan yang membatasi. Boleh saja aktivitas di mesjid berjalan 24 jam, tapi hindari menimbulkan suara gaduh, menggunakan loud speaker dengan volume sangat tinggi, terutama jika lokasi masjid terletak dekat rumah sakit atau gedung sekolah.Demikian pula, tradisi membangunkan warga di waktu sahur dengan membunyikan beduk, meneriaki warga melalui loud speaker, memukul tiang listrik atau cara lainnya sungguh tidak Islami. 

Lalu, bagaimana menjadikan agama sebagai mekanisme pensucian diri? Pertama, lakukan puasa dan juga ibadah lain dengan penuh keikhlasan semata-mata mengharapkan ridha Allah, mendisiplinkan diri dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Waktu sahur sebaiknya digunakan untuk salat tahajjud, berzikir, bertafakkur, dan makan sahur seadanya, tidak berlebihan seperti orang balas dendam. 

Hindari semua tontonan yang tidak bermutu, seperti siaran TV yang sarat dengan acara yang lebih mirip fashion show dan dagelan tidak bermutu; atau tayangan tidak edukatif, beraroma horor, porno dan kekerasan. Hindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai puasa, seperti  mengambil hak orang lain, memaksa penutupan warung dan restoran, membuang sampah sembarangan, memanipulasi angka-angka proyek, menggunjing dan menzalimi sesama. 

Kedua, sudah saatnya umat Islam menjadi cerdas dan berkualitas, perlu dakwah bermutu dan mampu mentransformasikan masyarakat menjadi lebih bermoral dan berspiritual. Dakwah agama (di mesjid, TV, sekolah dan berbagai pengajian) harus mampu merespon persoalan kontemporer yang riil dihadapi umat sehari-hari. Misalnya, bagaimana memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sehingga tidak tampak lagi para pengemis di jalan-jalan; Bagaimana menyelesaikan persoalan sampah, kebutuhan air bersih, listrik, pemukiman dan transportasi. Bagaimana mengeliminasi kemiskinan, buta huruf, pengangguran, trafficking (perdagangan manusia), dan korupsi. Bagaimana mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan yang bermutu, tapi terjangkau. 

Ketiga, akhiri segala bentuk komersialisasi dan politisasi agama. Sudah waktunya umat Islam tidak menjadikan agama sekedar upacara ritual seremonial tanpa makna, tidak menjadikan agama sebagai komoditas politik dan alat mempersubur kapitalisme. Berhentilah memproduksi dan menggantung spanduk dengan ucapan Selamat Puasa; Selamat Idul Fitri, dan berbagai ucapan selamat atas nama agama dan atas nama Tuhan. Itu semua tidak Islami, mengganggu pemandangan, menambah produksi sampah, merusak lingkungan, perbuatan sia-sia, dan mubazir. 

Keempat, sudah masanya mengubah orientasi pendidikan agama, jangan lagi berkutat pada aspek legal formal semata. Sejumlah penelitian mengungkapkan keprihatinan, bahwa pendidikan agama justru menumbuhkan sikap permusuhan dan kebencian pada orang berbeda. Pendidikan agama membuat orang bersikap prejudice, menjadi tidak toleran dan rela melakukan kekerasan terhadap orang lain yang dianggap tidak seiman. 

Pendidikan agama hendaknya lebih fokus pada penanaman nilai-nilai kemanusiaan universal yang justru merupakan esensi agama, seperti nilai-nilai keadilan, kejujuran, kebersihan, keindahan, kesabaran, toleransi dan kedermawanan. Penghayatan terhadap nilai-nilai inilah yang akan menumbuhkan sikap dan perilaku santun, adil, jujur, amanah, rendah hati, welas asih, rela berkorban, empati, mencintai dan menghormati sesama manusia tanpa sekat apa pun, menyayangi makhluk lain serta mencintai kelestarian lingkungan.

Kelima, sudah sangat mendesak menyuarakan interpretasi agama yang kondusif terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan juga ramah terhadap perempuan dan kelompok minoritas. Interpretasi agama harus mampu memberi inspirasi kepada umat melahirkan karya-karya inovatif dan kreatif dalam berbagai bidang pembangunan sehingga agama sungguh-sungguh menjadi pendorong kemajuan peradaban manusia.

Dengan puasa Ramadhan kali ini, kita berharap terjadi proses transformasi diri dan pada akhirnya terbebaskan dari semua musuh agama sehingga kita menjadi hamba yang bertakwa, berguna bagi sesama manusia dan alam semesta.Wallahu a’lam bi as-shawab.









Puasa dan Pembebasan Diri dari Hawa Nafsu


Musdah Mulia

Salah satu fungsi dari puasa Ramadhan adalah mensucikan jiwa manusia dari semua godaan hawa nafsu. Logikanya, semakin banyak puasa dilakukan, semakin suci pulalah jiwa manusia pelakunya. Sebab, puasa mendisiplinkan diri manusia agar tidak memperturutkan hawa nafsu.

Islam secara tegas mengajarkan bahwa jiwa manusia pada dasarnya suci. Akan tetapi, dalam perjalanan hidupnya manusia tercemar oleh berbagai dosa. Pencemaran terjadi karena dalam diri manusia selalu ada tendensi mengikuti hawa nafsu yang irasional, dan senantiasa membujuknya berpaling dari fitrah kesucian. Hawa nafsu merupakan pangkal dari semua penyakit dalam kehidupan manusia. Hawa nafsu, antara lain berwujud sifat takabur, sombong, arogan, dengki, iri hati, tamak, serakah, dan semua bentuk perilaku pemenuhan syahwat tanpa batas. 

Hakikatnya, hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa yang salah, seperti firman Allah swt.: 

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS. al-Mukminun, 23:71). 

Bahkan, di kalangan sufi terkenal ungkapan: "musuh manusia paling berbahaya adalah nafsunya sendiri". Ketika usai perang Badar yang sangat dahsyat itu, Nabi saw. berkata kepada para sahabat: "kita baru saja selesai dengan perang kecil menuju perang lebih besar", para sahabat terperanjat dan bertanya perang apakah gerangan lebih dahsyat dari ini, Nabi menjawab perang melawan hawa nafsu".

Anehnya, sekalipun telah dianugerahi fitrah yang hanif, manusia tetap merupakan makhluk lemah. Kelemahan manusia, antara lain terletak pada dua sifat: kekikiran (al-qatr) dan kepicikan atau sempit pikiran (al-dha`f). Hampir semua dosa manusia timbul akibat dua sifat tersebut. Perhatikan ayat-ayat berikut:
QS. al-Ma`rij, 70 :19-21  

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia menjadi amat kikir.

QS. al-Isra`, 17:100

 Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". dan adalah manusia itu sangat kikir.

Karena kepicikan dan kekikirannya, manusia selalu terjebak meraih keuntungan jangka pendek, melupakan keuntungan jangka panjang yang lebih abadi. Umumnya manusia sulit menahan diri dari godaan dosa dan zulm (kegelapan) sehingga dirinya diliputi kegelapan. Makin jauh manusia terperosok ke liang dosa, makin gelaplah hatinya. Pada akhirnya hati itu akan berubah dari nurani (terang benderang) menjadi  zulmani (gelap gulita). Konsekuensinya, tidak semua manusia masih punya hati nurani, mungkin yang dimiliki hanya tinggal hati zulmani. Hati yang tidak mampu lagi menyuarakan kebenaran.

Perlu diketahui, sifat tercela manusia sangat mempengaruhi pola ibadahnya. Tidak sedikit manusia yang mengharapkan setelah melakukan ibadah, misalnya setelah menunaikan puasa ia segera mendapatkan rahmat Tuhan dalam bentuk materi, seperti naik pangkat, usahanya berhasil, sekolahnya lulus dan seterusnya. Sangat keliru menilai rahmat Tuhan hanya dalam bentuk keberhasilan jangka pendek. Mungkin Tuhan pun berkata: “kalau demikian cara kalian mempertuhankan Aku, silakan cari Tuhan lain, Aku tidak sudi menjadi Tuhan kalian. Aku tidak suka didikte untuk memenuhi keinginan-keinginan jangka pendek kalian.”

Ibadah seharusnya dilakukan dengan tulus-ikhlas, tanpa pamrih apa pun, seperti do’a Rabiah al-`Adawiyah, sufi perempuan terkemuka (w. 801 H di Bagdad): “Tuhanku jika aku mnyembahMu hanya lantaran menginginkan surga-Mu, jauhkanlah surga itu dariku, sebaliknya jika aku menyembah-Mu lantaran takut kepada neraka-Mu, campakkanlah aku ke neraka-Mu, sebab aku  menyembah-Mu tanpa pamrih sedikit pun”.

Islam secara teologis merupakan rahmat bagi seluruh alam. Ajarannya mengandung  nilai-nilai universal yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Islam amat menonjolkan ajaran persamaan antarsesama manusia. Seluruh ajarannya mengedepankan persamaan nilai dan derajat kemanusiaan (al-Hujurat, 49:13). Kalaupun dalam realitas, terlihat ada perbedaan di antara manusia, perbedaan itu tidaklah dimaksudkan untuk saling menindas, menyakiti dan memusuhi. 

Perbedaan di antara manusia adalah sunnatullah untuk tujuan luhur, yaitu saling mengenal agar timbul saling pengertian (mutual understanding); dan sekaligus menjadi ajang kompetisi berbuat amal kebajikan menuju takwa. Manusia hanya dibedakan dari aspek prestasi dan kualitas takwanya dan bicara soal takwa, cuma Allah semata berhak menilai, bukan manusia. Manusia cukup berfastabiqul khairat (berlomba berbuat amal sebanyak mungkin). 

Demikian ajaran yang termaktub dalam teks-teks suci ajaran Islam. Namun, ketika ajaran luhur dan ideal itu diimplementasikan dalam kehidupan nyata di masyarakat, terjadilah sejumlah distorsi, baik sengaja atau tidak. Sebagian manusia mendapatkan perlakuan tidak sama, diskriminasi, dan bahkan mengalami kekerasan atas nama agama karena perbedaan tafsir, pemahaman agama, perbedaan aliran, dan seterusnya. 

Ajaran Islam, seperti termuat dalam Al-Qur’an, sarat dengan nilai-nilai yang dapat dikembangkan sebagai basis kerukunan dan toleransi. Mari simak ayat berikut: Jika Tuhanmu menghendaki tentunya semua manusia yang ada di muka bumi akan beriman. Lalu apakah kamu berkeinginan memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri untuk beriman?(Yunus, 10:99). Ayat ini intinya menyadarkan Nabi, betapa beliau sendiri tidak berpretensi memaksa manusia menerima dan mengamalkan ajaran yang disampaikannya. Ayat itu jelas mengecam perilaku kekerasan, termasuk kekerasan berbasis agama, apa pun alasannya.

Akhirnya, apa yang harus dilakukan? Paling tidak ada tiga solusi: Pertama, perlu upaya-upaya rekonstruksi budaya melalui jalur pendidikan dalam arti seluas-luasnya, terutama pendidikan dalam keluarga. Namun, juga penting dalam lembaga pendidikan formal di sekolah. Tujuannya, mengubah masyarakat; dari berbudaya eksklusif, intoleran, dan senang kekerasan menuju budaya inklusif, toleran, cinta damai dan bersikap pluralis. Kedua, merevisi sejumlah undang-undang dan peraturan yang tidak kondusif bagi terwujudnya sikap damai dan saling menghargai di antara sesama warga di tanah air. Ketiga, reinterpretasi ajaran agama sehingga yang tersosialisasi di masyarakat hanyalah ajaran yang mengedepankan kedamaian dan toleransi, membebaskan manusia dari  belenggu kebencian dan kekerasan. 

Dalam konteks membangun tiga solusi inilah, ibadah puasa menjadi sangat signifikan. Membiasakan puasa dalam kehidupan keluarga, khususnya terhadap anak-anak, akan mengeliminasi rasa permusuhan dan kebencian. Sebaliknya, puasa memupuk rasa cinta dan kasih sayang di antara anggota keluarga. 

Dan pada gilirannya, sikap-sikap terpuji ini akan menebar kepada masyarakat luas. Puasa akan membuat para pengambil kebijakan mampu dan mau merumuskan peraturan publik yang bermanfat bagi semua golongan, tanpa diskriminasi sedikit pun. Puasa yang hakiki akan menuntun para pemuka agama berani menyuarakan interpretasi agama yang akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Wa Allah a'lam bi as-shawab.